Menulis artikel ilmiah itu tidak mudah. Tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika artikel yang sudah kamu kerjakan berbulan-bulan justru berakhir dengan satu kata: Rejected.
Faktanya, banyak penolakan bukan karena penelitian kamu buruk, tetapi karena ada kesalahan-kesalahan mendasar yang sering tidak disadari—terutama oleh mahasiswa dan peneliti pemula. Kalau kamu ingin memahami alasan artikel ditolak editor jurnal, artikel ini akan membantu kamu menghindari kesalahan yang sama dan meningkatkan peluang publish.
Sebelum masuk ke daftar kesalahan, penting untuk memahami perspektif editor dan reviewer. Mereka tidak mencari artikel yang “sempurna”, tetapi yang:
Jika salah satu saja tidak terpenuhi, kemungkinan besar artikel akan ditolak.
Nah, berdasarkan kriteria tersebut, ada beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan penulis dan tanpa disadari menjadi penyebab utama penolakan.
Berikut 10 kesalahan yang harus kamu hindari jika ingin artikelmu lolos review,
Ini adalah alasan artikel ditolak jurnal yang paling sering terjadi. Artikel kamu mungkin rapi, tetapi jika tidak menawarkan sesuatu yang baru, maka nilainya rendah di mata reviewer.
Ciri-ciri:
Dalam publikasi ilmiah, kontribusi baru adalah kunci utama.
Kesalahan klasik yang sering dianggap sepele. Mengirim artikel ke jurnal yang tidak relevan dengan topik penelitian adalah langkah yang hampir pasti berujung penolakan.
Solusinya: pahami fokus dan scope jurnal sebelum submit.
Struktur yang tidak jelas membuat reviewer kesulitan memahami isi penelitian. Masalah yang sering muncul:
Gunakan struktur IMRAD sebagai standar dasar.
Metodologi adalah fondasi penelitian. Jika bagian ini lemah:
Pastikan metode dijelaskan secara rinci dan logis.
Data yang tidak mendukung tujuan penelitian akan melemahkan keseluruhan artikel.
Contoh masalah:
Data harus relevan, cukup, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Banyak penulis hanya mendeskripsikan hasil tanpa analisis. Padahal yang diharapkan reviewer:
Tanpa ini, artikel terasa “dangkal”.
Ini termasuk alasan artikel ditolak editor jurnal yang cukup fatal.
Kesalahan umum:
Gunakan tools seperti Mendeley atau Zotero untuk menjaga konsistensi.
Bahasa yang digunakan harus:
Jika tulisan sulit dipahami, reviewer akan kesulitan menilai kualitas penelitian.
Setiap jurnal memiliki aturan yang berbeda. Kesalahan kecil seperti:
Bisa langsung menyebabkan penolakan, bahkan tanpa review mendalam.
Banyak penulis fokus pada artikel, tapi mengabaikan proses submit.
Kesalahan umum:
Ini menciptakan kesan tidak serius di mata editor.
Setelah mengetahui berbagai penyebab penolakan, berikut langkah yang bisa kamu lakukan:
Intinya: bukan hanya menulis, tapi menulis sesuai standar publikasi.
Sebagian besar penolakan artikel ilmiah sebenarnya bisa dihindari.
Dengan memahami alasan artikel ditolak jurnal, kamu bisa:
Nah sekarang kamu sudah tahu kan apa saja kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi. Artinya, kamu juga sudah tahu apa yang perlu diperbaiki sebelum submit.
Tapi di sisi lain, proses publikasi jurnal memang tidak sederhana:
Di sinilah banyak penulis berhenti.
Kalau kamu ingin melangkah lebih jauh, kamu bisa mempertimbangkan IDPublishing.
IDPublishing berfokus pada pendampingan publikasi jurnal ilmiah, mulai dari:
Jadi bukan sekadar menulis, tapi memastikan artikel kamu benar-benar terbit di jurnal ilmiah.
Kamu juga bisa cek insight dan edukasi lainnya di Instagram IDPublishing