22 September 2026
Berita
Oleh Marketing IDPublishing

7 Ciri Jurnal Predator yang Wajib Dicek Sebelum Submit

Bayangkan Anda sudah menghabiskan berbulan-bulan melakukan penelitian, menulis artikel, memperbaiki referensi, dan menyiapkan manuskrip. Setelah artikel dikirim dan biaya publikasi dibayarkan, barulah diketahui bahwa jurnal tersebut bermasalah.

Situasi seperti ini tentu sangat merugikan.

Karena itu, mengetahui cara cek jurnal predator menjadi salah satu kemampuan penting bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti sebelum melakukan submission.

Jangan hanya percaya pada logo SINTA, Scopus, Google Scholar, atau berbagai indeks yang terpampang di website jurnal. Status dan identitas jurnal tetap perlu diverifikasi melalui sumber yang relevan. Bahkan status jurnal di suatu indeks dapat berubah dari waktu ke waktu.

Lalu, bagaimana mengenali jurnal yang patut dicurigai?

 

Apa Itu Jurnal Predator?

Istilah jurnal predator umumnya digunakan untuk menggambarkan praktik penerbitan yang mengejar keuntungan dari penulis tetapi tidak menjalankan standar editorial, transparansi, atau peer review sebagaimana mestinya.

Masalahnya, tidak selalu mudah membedakan jurnal yang kredibel dengan jurnal yang memiliki praktik penerbitan bermasalah hanya dari tampilannya.

Website sebuah jurnal dapat terlihat profesional, memiliki nomor ISSN, mencantumkan nama editor, bahkan memasang berbagai logo indeksasi.

Karena itu, penilaian sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan satu indikator.

Prinsip transparansi publikasi ilmiah yang dikembangkan COPE, DOAJ, OASPA, dan WAME menekankan beberapa informasi penting yang seharusnya tersedia secara jelas, termasuk aims and scope, proses peer review, kepemilikan jurnal, editorial board, biaya publikasi, hak cipta, serta informasi kontak.

 

Mengapa Jurnal Predator Berbahaya bagi Peneliti?

Kesalahan memilih jurnal bukan hanya persoalan kehilangan biaya publikasi.

Dampaknya dapat menyentuh reputasi dan rekam jejak akademik penulis.

Beberapa risiko yang dapat terjadi antara lain:

  • Artikel tidak memperoleh proses review yang memadai
  • Kualitas publikasi dipertanyakan
  • Biaya publikasi menjadi sia-sia
  • Artikel sulit ditemukan setelah diterbitkan
  • Jurnal tiba-tiba berhenti beroperasi
  • Klaim indeksasi ternyata tidak sesuai
  • Publikasi tidak memenuhi persyaratan institusi tertentu

Bagi mahasiswa yang membutuhkan publikasi untuk persyaratan akademik atau dosen yang memerlukan publikasi untuk kebutuhan profesional, salah memilih jurnal dapat menyebabkan masalah administratif tambahan.

Karena itu, pemeriksaan sebaiknya dilakukan sebelum submit, bukan setelah artikel diterima.

 

7 Ciri-Ciri Jurnal Predator yang Perlu Diwaspadai

Tidak ada satu tanda yang secara otomatis membuktikan sebuah jurnal predator.

Namun, kombinasi beberapa tanda berikut merupakan alasan kuat untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam.

 

1. Menjanjikan Artikel Pasti Diterima

Kalimat seperti:

“100% Accepted”

atau:

“Guaranteed Publication”

perlu diperlakukan dengan hati-hati.

Dalam penerbitan ilmiah yang menggunakan evaluasi editorial, keputusan penerimaan seharusnya bergantung pada manuskrip dan proses penilaian.

Prinsip transparansi publikasi ilmiah juga menyatakan bahwa jurnal tidak seharusnya menjamin penerimaan manuskrip pada tahap awal submission.

Karena itu, klaim bahwa semua artikel pasti diterima bertentangan dengan prinsip dasar evaluasi ilmiah.

 

2. Proses Review Terlalu Cepat dan Tidak Jelas

Publikasi cepat tidak otomatis berarti jurnal predator.

Beberapa jurnal memang mempunyai sistem editorial yang efisien.

Namun, berhati-hatilah jika sebuah jurnal menjanjikan proses seperti:

Submit hari ini, accepted besok.

Apalagi jika tidak ada penjelasan mengenai proses peer review.

Jurnal yang dikelola secara transparan seharusnya menjelaskan:

  • Apakah artikel melalui peer review
  • Jenis peer review yang digunakan
  • Siapa yang melakukan evaluasi
  • Bagaimana keputusan editorial dibuat

Informasi tersebut merupakan bagian dari praktik transparansi jurnal.

 

3. Klaim Indeksasi Sulit Diverifikasi

Salah satu trik yang perlu diwaspadai adalah penggunaan logo indeksasi tanpa informasi yang dapat diverifikasi.

Misalnya sebuah jurnal menampilkan logo Scopus.

Jangan langsung menganggap jurnal tersebut masih aktif terindeks.

Elsevier menyediakan Scopus Sources dan daftar sumber yang dapat digunakan untuk memeriksa status sebuah jurnal. Daftar tersebut juga mencakup informasi mengenai sumber yang telah discontinued dan diperbarui secara berkala.

Untuk jurnal nasional Indonesia, penulis dapat melakukan pengecekan melalui portal resmi SINTA.

SINTA menyediakan informasi mengenai jurnal dan peringkat akreditasi, termasuk jurnal yang berstatus SINTA 1 hingga SINTA 6, cancelled, maupun not accredited.

Jadi, jangan hanya percaya pada screenshot atau logo.

Lakukan verifikasi sendiri.

 

4. Editorial Board Tidak Transparan

Editorial board merupakan salah satu bagian penting dalam tata kelola jurnal.

Website jurnal sebaiknya menampilkan informasi seperti:

  • Nama editor
  • Afiliasi editor
  • Editorial board
  • Informasi kontak editorial

Prinsip transparansi publikasi ilmiah menyatakan bahwa jurnal seharusnya mencantumkan nama dan afiliasi editor serta memiliki badan editorial yang relevan dengan bidang keilmuan jurnal.

Anda perlu berhati-hati apabila:

  • Nama editor tidak tersedia
  • Afiliasi tidak jelas
  • Nama akademisi tampak tidak relevan dengan bidang jurnal
  • Informasi editor sulit diverifikasi

Jika perlu, cari profil akademik anggota editorial board melalui website institusi masing-masing.

 

5. Biaya Publikasi Tidak Dijelaskan dengan Jelas

Mengenakan Article Processing Charge atau biaya publikasi bukan berarti jurnal predator.

Banyak jurnal kredibel mengenakan biaya publikasi.

Masalah muncul ketika biaya tersebut tidak transparan.

Sebelum submit, cari halaman:

  • Author Fees
  • Article Processing Charge
  • Publication Fee
  • Submission Fee

Besaran biaya dan tahapan pembayarannya seharusnya dijelaskan kepada calon penulis.

Transparansi biaya merupakan salah satu prinsip penting dalam praktik publikasi ilmiah yang baik.

Waspadai apabila biaya baru diinformasikan setelah artikel diterima padahal sebelumnya tidak disebutkan dengan jelas.

 

6. Website dan Informasi Jurnal Mencurigakan

Website bukan satu-satunya ukuran kualitas jurnal.

Namun, isi website dapat memberikan banyak petunjuk.

Periksa apakah website memiliki:

  • Focus and Scope
  • Author Guidelines
  • Peer Review Process
  • Publication Ethics
  • Editorial Board
  • Contact
  • Copyright Notice
  • Archiving Policy
  • Publication Frequency
  • Informasi biaya

Prinsip transparansi DOAJ, COPE, OASPA, dan WAME juga menekankan bahwa website jurnal tidak boleh memuat informasi yang menyesatkan atau meniru identitas jurnal maupun penerbit lain.

Perhatikan pula konsistensi informasi di setiap halaman.

Misalnya, jangan sampai nama penerbit pada halaman About berbeda dengan nama pada PDF artikel.

 

7. Mengirim Email Penawaran secara Agresif

Pernah menerima email seperti:

“Dear Esteemed Researcher, submit your valuable manuscript today!”

Email promosi sendiri tidak otomatis membuktikan sebuah jurnal bermasalah.

Beberapa penerbit resmi juga melakukan komunikasi kepada calon penulis.

Namun, lakukan pemeriksaan lebih lanjut jika email tersebut:

  • Berulang kali dikirim tanpa relevansi
  • Tidak menyebut bidang penelitian Anda
  • Menjanjikan acceptance
  • Menawarkan penerbitan dalam beberapa hari
  • Mendesak pembayaran
  • Menggunakan alamat email yang tidak terkait dengan domain penerbit

Jangan melakukan submission hanya karena mendapat undangan melalui email.

Cari jurnalnya secara mandiri dan periksa kredibilitasnya.

 

Cara Cek Jurnal Predator Sebelum Submit

Setelah mengetahui tanda bahayanya, lakukan verifikasi secara sistematis.

Cek Status Jurnal di SINTA

Untuk jurnal nasional, buka portal resmi SINTA dan cari jurnal berdasarkan nama atau ISSN.

SINTA menyediakan database jurnal serta filter status akreditasi yang dapat membantu penulis melakukan pemeriksaan.

Periksa:

  • Nama jurnal
  • ISSN
  • Penerbit
  • Peringkat SINTA
  • Status akreditasi

Pastikan informasi tersebut sesuai dengan website jurnal.

 

Cek Status di Scopus Sources

Jika jurnal mengklaim terindeks Scopus, lakukan pengecekan melalui Scopus Sources atau daftar sumber resmi Scopus.

Pencarian dapat dilakukan menggunakan:

  • Nama jurnal
  • ISSN
  • Publisher
  • Subject area

Scopus juga menyediakan informasi sumber dan daftar discontinued sources.

Jangan hanya menggunakan informasi dari website pihak ketiga.

 

Periksa DOAJ untuk Jurnal Open Access

Jika jurnal merupakan open-access journal, Anda juga dapat memeriksa apakah jurnal tercantum dalam Directory of Open Access Journals atau DOAJ.

DOAJ mengevaluasi jurnal berdasarkan sejumlah persyaratan, termasuk informasi website, editorial board, peer review, dan praktik manajemen jurnal.

Namun, jurnal yang tidak tercantum di DOAJ tidak otomatis berarti predator.

DOAJ hanya salah satu instrumen verifikasi.

 

Cocokkan ISSN dan Identitas Penerbit

Jangan hanya mencari berdasarkan nama jurnal.

Beberapa jurnal memiliki nama yang hampir sama.

Periksa:

  • P-ISSN
  • E-ISSN
  • Nama penerbit
  • Domain website
  • Alamat penerbit

Jika jurnal mengklaim terindeks dalam suatu database, cocokkan ISSN pada database tersebut dengan ISSN yang terdapat di website jurnal.

 

Baca Artikel yang Sudah Diterbitkan

Cara sederhana lainnya adalah membuka beberapa artikel pada edisi sebelumnya.

Periksa:

  • Kualitas penulisan
  • Struktur artikel
  • Metadata
  • DOI
  • Nama penulis
  • Afiliasi
  • Referensi
  • Tanggal submission, revision, dan acceptance apabila tersedia

Anda juga dapat mencari beberapa judul artikel melalui mesin pencari akademik untuk melihat apakah publikasinya benar-benar dapat ditemukan.

 

Apakah Jurnal yang Tidak Terindeks SINTA atau Scopus Pasti Predator?

Tidak.

Ini penting dipahami.

Tidak semua jurnal ilmiah harus terindeks SINTA atau Scopus.

SINTA bahkan menampilkan kategori jurnal Not Accredited selain kategori jurnal terakreditasi.

Demikian pula, sebuah jurnal baru mungkin belum memenuhi syarat atau belum mengajukan indeksasi tertentu.

Karena itu:

Tidak terindeks ≠ otomatis predator.

Sebaliknya:

Memiliki DOI ≠ otomatis jurnal berkualitas tinggi.

Memiliki ISSN ≠ otomatis terakreditasi.

Pernah terindeks Scopus ≠ otomatis masih aktif terindeks saat ini.

Penulis perlu melihat banyak indikator sekaligus.

 

Checklist Sebelum Submit Artikel

Sebelum menekan tombol Submit, gunakan checklist berikut:

  1. Apakah scope jurnal sesuai dengan penelitian?
  2. Apakah nama penerbit jelas?
  3. Apakah ISSN dapat diverifikasi?
  4. Apakah editorial board tersedia?
  5. Apakah proses peer review dijelaskan?
  6. Apakah Author Guidelines tersedia?
  7. Apakah biaya publikasi transparan?
  8. Apakah jurnal memiliki riwayat terbit yang konsisten?
  9. Apakah klaim SINTA atau Scopus sudah diverifikasi?
  10. Apakah website menyediakan kontak yang jelas?
  11. Apakah artikel sebelumnya dapat dibaca?
  12. Apakah jurnal tidak menjamin acceptance?

Semakin banyak informasi yang transparan dan dapat diverifikasi, semakin mudah bagi penulis untuk membuat keputusan sebelum melakukan submission.

 

Kesimpulan

Mengetahui cara cek jurnal predator sangat penting sebelum mengirim artikel ilmiah.

Jangan hanya tergoda dengan publikasi cepat, jaminan acceptance, atau logo indeksasi yang terpampang di website.

Periksa secara menyeluruh:

  • Identitas jurnal
  • Editorial board
  • Peer review
  • Author Guidelines
  • Biaya publikasi
  • ISSN
  • Status indeksasi
  • Riwayat penerbitan

Gunakan sumber resmi seperti SINTA untuk memeriksa informasi jurnal nasional serta Scopus Sources apabila jurnal mengklaim terindeks Scopus. Untuk jurnal open access, DOAJ juga dapat menjadi salah satu sumber pemeriksaan tambahan.

Ingat, tujuan publikasi ilmiah bukan sekadar mendapatkan LoA atau membuat artikel cepat terbit.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan karya ilmiah diterbitkan melalui proses editorial yang transparan, dapat dipertanggungjawabkan, dan sesuai dengan kebutuhan akademik Anda.

Sedang mencari jurnal ilmiah yang sesuai dengan bidang penelitian Anda? Jelajahi jurnal-jurnal yang diterbitkan IDPublishing dan temukan jurnal dengan focus and scope yang relevan dengan penelitian Anda sebelum melakukan submission.

  

Kontak Media

Untuk informasi lebih lanjut, wawancara, atau kerja sama, silakan hubungi:

Humas PT Penerbit Jurnal Indonesia (IDPUBLISHING)

Email: [email protected]
Telepon/WhatsApp: wa.me/idpub
Website: idpublishing.org
Alamat: Jl. Sidorejo, Gg. Nakula No. C12, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, D.I Yogyakarta 55182